This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Friday, November 2, 2012

Analisis Pemasaran Tanaman Nilam (Pogostemon cablin Benth.) (Studi Kasus Desa ... Kecamatan ...Kabupaten ...) (PRT-23)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar belakang
Tanaman Nilam (Pogostemon cablin Benth) yang termasuk dalam keluarga Labiatea merupakan salah satu tanaman penghasil minyak astsiri yang penting bagi Indonesia, karena minyak yang dihasilkan merupakan komoditas ekspor yang cukup mendatangkan devisa negara. Sebagai komoditas ekspor minyak mempunyai prospek yang baik, karena dibutuhkan secara kontinyu dalam industri kosmetik, parfum, sabun dan lain-lain. Penggunaan minyak nilam yang sifatnya yang fiksatif terhadap bahan pewangi lain agar aroma bertahan lama, sehingga dapat mengikat bau produktif selama 1-2 tahun (Mangun, 2005)

Di pasar internasional (marketing international) minyak nilam dikenal dengan nama “ Patchouli oil”. Hasil tanaman nilam adalah minyak yang didapat dengan cara menyuling batang dan daunya, belum ada senyawa sintetis yang mampu menggantikan peran minyak nilam dalam industri parfum dan kosmetika. Dalam dunia perdagangan dikenal dengan dua macam nilam yaitu “ Folia patchouli naturals” (sebagai insektisida) dan “ depurate” (Sutanto, 2005).

Tanaman nilam ( Pogostemon Cablin, Benth ) termasuk tanaman dari famili Labiateae. Famili ini memiliki sekitar 200 genus, yang satu diantaranya adalah pogostemon. Genus ini diperkirakan memiliki sekitar 40 spesies, yang salah satunya adalah Pogostemon Cablin,Benth. Secara geografis tanaman yang termasuk semak dengan tinggi mencapai 1 meter ini tersebar luas di Asia Tenggara. Meskipun kualitas nilam terbaik ada di Indonesia, tetapi asal nilam diduga dari Filipina. Nilam dari Filipina tersebut lantas ditanam dan berkembang diberbagai Negara, diawali dari Singapura, kemudian berkembang di Indonesia ( Pulau Sumatra ), Madagaskar, hingga Brasil (Heironymus, 1991).


Nilam atau dilem ( Jawa ) termasuk jenis tanaman yang jarang sekali berbunga, sehingga diperbanyak dengan setek. Umur produktif tanaman ini mencapai 2-3 tahun, setelah itu harus diremajakan kembali. Pemanenan nilam pertama dilakukan saat tanaman berumur enam bulan dan panen selanjutnya dapat dilakukan tiga bulan sekali. Nilam mempunyai akar serabut dengan bentuk daun bulat dan lonjong. Daun yang masih muda berwarna hijau muda, sedangkan daun yang sudah tua berwarna hijau tua (Mangun, 2005).

 Nilam adalah tanaman daerah tropis yang mudah tumbuh dengan baik didataran rendah hingga dataran tinggi dengan ketinggian 1.200 meter diatas permukaan laut (dpl ). Namun idealnya nilam tumbuh didaerah dengan ketinggian 10-700 meter dpl. Kebutuhan curah hujan tanaman nilam pertahunnya sebesar 2.500-3.000 mm dengan penyebaran yang merata sepanjang tahun. Suhu ideal pertumbuhannya 24-280C dengan kelembaban diatas 75%. Nilam membutuhkan banyak air, tetapi tidak tahan jika tergenang (Mangun, 2005)

Menurut (Heironymus,1991), beberapa daerah di Indonesia yang memenuhi persyaratan tumbuh cukup baik bagi nilam, sekaligus sebagai daerah penghasil nilam adalah Nangroe Aceh Darussalam, Sumatra Utara, Bengkulu, Lampung, Kuningan   ( Jawa Barat ) dan Batu Raden ( Jawa Tengah ).  

Peningkatan produksi dan permintaan yang ditunjukan oleh kenaikan ekspor belum menjamin terjadinya peningkatan pendapatan petani yang proporsional, karena pendapatan petani selain dipengaruhi oleh besarnya produksi juga dipengaruhi oleh system pemasaran yang efesien. Sehubungan dengan hal tersebut maka dalam rangka meningkatkan pendapatan petani, perlu diimbangi s\dengan system pemasaran yang menguntungkan petani (Sutawi,2002)

Dalam proses pemasaran akan melibatkan lembaga-lembaga pemasaran. Peran para lembaga pemasaran ini sangat diperlukan dan penting sekali untuk menyampaikan hasil-hasil produsi dari petani produsen ke konsumen. Semakin efesien kerja lembaga-lembaga pemasaran maka akan semakin menguntungkan bagi semua pihak, baik para produsen, konsumen maupun bagi lembaga-lembaga pemasaran itu sendiri. Bagi produsen akan bertambahnya keuntungan yang diterima (Karta,1992)

Berdasarkan uraian diatas, maka perlu dilakukan penelitian tentang pemasaran tanaman nilam (pogostemon cablin Benth), dalam rangka memberikan masukan dan referensi tentang pemasaran (marketing) kepada petani dan pemerintah daerah setempat agar melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kesehjahteraan petani dan daya saing petani.

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Analisis Curahan Tenaga Kerja Wanita Tani (studi kasus pada wanita tani di Desa Sidomulyo Kecamatan Batu Kota Batu) (PRT-22)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.    Latar Belakang
Sumber daya manusia merupakan salah satu faktor yang dinamika dalam perkembangan ekonomi jangka panjang, bersama dengan ilmu pengetahuan dan tehnologi, sumber daya alam, kapasitas produksi yang terpasang dalam masyarakat yang bersangkutan. Keempat faktor dinamika itu harus dilihat dalam kaitan interaksi satu dengan yang lainnya. Namun, diantaranya peranan sumber daya manusia mengambil tempat yang sentral, khususnya dalam pembangunan ekonomi negara – negara berkembang di mana kesejahteraan manusia dijadikan tujuan pokok dalam ekonomi masyarakat. Berpangkal pada haluan ini masalah penduduk dan angkatan kerja, baik secara kuantitatif maupun kualitatif, wajib diberi perhatian utama dalam ekonomi pembangunan. Dalam hal ini menonjolkan maslah kesempatan kerja secara produktif khususnya tenaga kerja wanita tani.

Negara-negara berkembang pada umumnya terus mengalami pertumbuhan penduduk. Dengan sendirinya, kebutuhan masyarakat menjadi semakin banyak mengenai serangkaian keperluan hidup yang sifatnya sangat mendasar: pangan, sandang, pemukiman, pendidikan, kesehatan.   

Perjalanan pembangunan pertanian kita hingga saat ini belum menunjukkan hasil yang maksimal dilihat dari kesejahteraan petani dan kontribusinya pada pendapatan nasional. Penurunan lahan yang dratis dan persaingan global menyebabkan pertanian terpuruk ditambah beban ekonomi perkotaan dari sektor industri. Industri yang seharusnya bisa menampung luapan tenaga kerja sektor pertanian ternyata mandul apalagi PHK menjadi momok tiap perusahaan. Mengingat kondisi tersebut perlu kita renungkan kembali alternatif strategi pembangunan pertanian yang mampu menjawab berbagai tantangan tersebut.
 
Pembangunan pertanian didaerah untuk meningkatkan pendapatan dan taraf hidup petani. Memperluas lapangan kerja dan kesempatan usaha serta mengisi dan memperluas pasar, baik pasar dalam negeri maupun pasar luar negeri. Melalui pertanian yang maju, efisien dan tanguh sehingga makin mampu meninggkatkan hasil dan mengganekaragamkan hasil, meningkatkan mutu dan derajat pengolahan produksi di bidang pertanian itu sendiri. Selain itu pembanggunan pertanian tanaman pangan terus ditinggkatkan untuk memelihara kemampuan swasembada pangan, meningkatkan pendapatan masyarakat dan memperbaiki gizi melalui penganekaragaman pangan dan jenis bahan pangan.

Seperti diketahui sektor pertanian di Indonesia dianggap penting. Hal ini terlihat dari sektor pertanian terhadap penyediaan lapangan kerja, penyediaan pangan, penyumbangan devisa negara melalui eksport. Oleh karenanya wajar kalau biaya pembangunan untuk sektor pertanian ini selalu menempati urutan ketiga diantara pembiayaan sektor - sektor lainnya.

Sejalan dengan arah pembangunan nasional, kebijakan pertanian diarahkan pada peningkatan pendapatan dan taraf hidup petani, memperluas lapangan kerja dan kesempatan usaha serta mengisi  dan memperluas pasar. Baik pasar dalam negeri maupun luar negeri melalui pertanian yang maju, efisien dan tangguh. Sehingga makin mampu meningkatkan mutu dan derajat pengolahan produksi, menganekaragamkan hasil dan menunjang pembangunan wilayah. Keikut sertaan petani dalam pembangunan melalui koperasi dan kelompok tani perlu di tinggakatkan. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan produktifitas petani dan meningkatkan pendapatan yang pada akhirnya membantu akan menurunkan atau mengurangi angka kemiskinan.

Garis garis Besar Haluan Negara tahun, 1993 telah menetapkan bahwa peranan wanita sebagai sumber insani mempuyai hak dan kewajiban serta kesempatan yang sama dengan pria dalam pembangunan disegala bidang. Disamping itu juga berperan mengembangkan generasi muda, terutama anak –anak dan remaja dalam pembangunan manusia seutuhnya. Dengan  demikian wanita Indonesia dituntut untuk mampu berperan ganda, di satu pihak sebagai ibu rumah tangga dengan berbagai persoalannya untuk menciptakan keluarga yang sejahtera dan bahagia. Di lain pihak ikut berperan serta dalam pembangunan masyarakat sesuai dengan kemampuannya dan kesempatannya dalam situasi dan kondisi masing -masing.

Menurut Kasryno dan Suryana ( 1988 ), penyebab utama bergembangnya ekonomi pedesaan kearah aktifitas yang semakin beragam adalah makin meningkatnya keterbukaannya pedesan yang didukung oleh adanya revolusi transportasi karena hubungan fisik antara desa dan antara desa dan kota makin intensif, relatif cepat, dan murah maka interaksi fisik, sosial dan ekonomi pun terus berkembang.

Di daerah pedesaan, sebagian besar penduduknya masih dalam kategori petani kecil atau miskin dan kebanyakkan dari mereka tidak memiliki lahan sendiri. Walaupun ada diantara mereka yang memiliki lahan sendiri, akan tetapi luasnya tidak seberapa dan hasilnya belum cukup untuk membiayai hidup secara layak. Pada kenyataannya di pedesaan, petani yang memiliki lahan sempit jumlahnya cukup banyak, sedangkan areal usahatani meraka belum cukup memberikan jaminan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Makin tinggi kepadatan penduduk makin sempit rata-rata luasan lahan garapan. Sehingga makin rendah pendapatan dari sektor pertanian dan kebutuhan tersebut belum memenuhi kebutuhan keluaraga. Dan akhirnya mereka tetap terkekang dalam garis kemiskinan.       

Menurut Sujogya (1982), menilai bahwa sumbangan wanita terhadap pendapatan total rumah tangga cukup besar, terutama pada rumah tangga berpendapatan rendah. Dengan terjadinya pergeseran peranan pria dan wanita dalam pertanian, sumber pendapatan dan kesempatan kerja di pedesaan mengalami perubahan. Hal ini penting di amati guna memeroleh pengetahuan. Faktor-faktor apa yang mempengaruhi sejauh mana perubahan-perubahan yang terjadi, dan bagaimana perbedaan perubahan tersebut antar daerah yang karateristik fisik dan sosial ekonomi yang berbeda. 

Wanita dalam kehidupan bermasyarakat disamping sebagai ibu rumah tangga juga sebagai tenaga kerja pencari nafkah baik untuk dirinya maupun juga untuk keluarganya. Posisi ganda tersebut di sebabkan oleh banyaknya tuntutan ekonomi dan upaya mandiri untuk meningkatkan sumberdaya manusia dan akhir-akhir ini semakin dihargai oleh masyarakat. Perkembangan tersebut mendorong wanita yang selama ini terkadang oleh suatu tradisi yang menyudutkan mereka ke arah partisipasi pembangunan nasioanal.

Berdasarkan kenyataan, tinggkat pendapatan petani berlahan sempit maupun buruh tani yang masih relatif rendah, memyebabkan para ibu rumah tangga ikut mencari nafkah untuk tambahan penghasilan suami untuk mencapai pemenuhan kebutuhan sehari – hari. Hal ini wanita ikut serta dalam kegiatan perekonomian masyarakat pedesaan terutama dalam usaha peningkatan pendapatan rumah tangga.

Peranan wanita untuk keperluan kehidupan rumah tangga di perinci:
1.                               Peranan wanita sebagai ibu rumah tangga dan sebagai pencari nafkah
2.                               Peranan wanita sebgai kedudukan pengambil keputusan
3.                               Peranan wanita pada kedudukan beragam lembaga atau organiasasi sosial ekonomi kebudayaan dan politik yang ada disamping atau di desa.
Manusia merupakan sumberdaya yang tidak dapat diabaikan menyatakan prikemanusiyaan yang berorientasi pada keahliaan belaka. Tindakan berupa mengajak mendorong wanita di pedesaan untuk berpatisipasi dalam pembangunan merupakan suatu tindakan yang efisien. Bahkan tanpa mengikut sertakan wanita dalam, pembangunan akan memberikan pengaruh yang relatif besar terhadap lajunya pertumbuhan perekonomian kita.

Menurut Priyo (1992), dalam skiprsi Budi Wibowo (2000)  usaha peningkatan kwalitas penduduk dilakukan dalam tiga jalan strategi yaitu: 1). Usaha perbaikan gizi dan kesehatan keluarga, 2). Peningkatan pendidikan dalam arti yang sangat luas, 3). Peningkatan partisipasi penduduk dalam pekerjaan (labourparticipation ratio) dalam perhitungan ketergantungan penduduk non produktif dengan penduduk yang produktif ( dependence ratio).

Dari ketiga faktor yang paling penting adalah usaha untuk peningkatan partisipasi penduduk dalam pekerjaan dan penurunan tinggkat ketergantugan dalam masyarakat pedesaan. Dengan demikian posisi wanita dalam berkeluarga dan masyarakat sangat penting untuk peningkatan perananya.

Di mana kita ketahui bahwa sebagai besar penduduk Indonesia bertempat tinggal di daerah pedesaan dan bekerja dalam sektor primer, hal itu dapat di tunjukan dari banyaknya penduduk atau tenaga kerja yang hidup atau bekerja pada sektor pertanian atau dari produk pertanian yang berasal dari pertanian. Sektor        petanian menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang sangat besar apabila tenaga kerja perempuan, dimana perempuan memiliki peranan yang vital dalam perekonomian rumah tangga petani. Oleh karena itu diperlukan berbagai usaha agar petani tetap mampu berusaha di bidang pertanian. Artinya tingkat kesejahteraan dalam produktivitas petani kesektor lain (industri) untuk mendapatkan hidup yang layak ( R. Renata Simatupang, 2000 ).

  Sektor pertanian di Indonesia mempuyai peranan yang sangat strategis dalam perkembangan pembangunan yaitu sebagai sumber kehidupan dan pendapatan pertanian dalam keluarga, penghasil pangan, bahan baku industri yang juga sebagai peyedia lapangan kerja serta salah satu unsur pelestari hidup. Sektor pertanian apabila dikembangkan secara terus menerus dipedesaan akan membawa dampak yang luas terhadap persoalan-persoalan ketenagakerjaan terutama tenaga kerja perempuan karena persoalan tenaga kerja merupakan masalah yang vital dalam  pembangunan. Untuk menunjang sumberdaya dan peningkatan kwalitas serta produktivitas dalam sektor pertanian diperlukan suatu progam Intensifitas yang diharapkan dapat meningkatkan pendapatan-pendapatan petani. Sebab dengan perluasan lahan maka tingkat kesempatan kerja dan perbaikan kwalitas tenaga kerja dapat ditingkatkan dan gejala terjadinya penganguran tidak terlalu banyak.

Dengan masuknya teknologi pertanian baru selain sebagai upaya untuk menginsentifikasikan hasil pertanian akan berakibat buruk bagi posisi perempuan ke pingiran dalam memperebutkan kesempatan tenaga kerja. Dengan makin luasnya kegiatan teknologi modern dengan segala nilai yang melekat berpengaruh langsung terhadap perubahan struktur gender dalam masyarakat desa yang agraris tradisional ( Abdullah, Malo,Clauss,1995).
Analisa perekonomian rumah tangga tani dalam konteks pemikiran yang memfokuskan bagaimana memperkirakan dan membandingkan nilai pekerjaan petani baik pada tingkat induvidu maupun pada tingkat petani adalah bagaimana untuk menelaah masyarakat di pedesaan. Hal ini tentunya dapat membantu dapat membantu untuk lebih mengerti kedudukan wanita di pedesaan dalam perekonomian khususnya dengan menghitungkan membangdingkan pada curahan tenaga kerja pria dalam berbagai aktivitas serta pekerjaan untuk mencari nafkah yang langsung menghasilkan (income).

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Strategi Pemasaran Minyak Atsiri Di Kecamatan ... Kabupaten ... (PRT-21)

BAB I
PENDAHULUAN


1.1   Latar Belakang
Sektor pertanian, dengan segala output yang dihasilkan, merupakan sektor  yang cukup tangguh dibanding sektor lainnya. Hal tersebut telah teruji saat Indonesia dilanda kerisis ekonomi. Produk dari sektor pertanian justru menjadi salah satu sumber pendapatan devisa bagi Negara. Umumnya, komoditas tersebut berasal dariperkebunan, salah satunya produk perkebunan dalam bentuk minyak atsiri. Disamping itu minyak nilam mempunyai banyak keunggulan. Silain bermanfaat bagi berbagai ragam kebutuhan industri, masa panen tanaman nilam relative singkat dan mempunyai jangka waktu hidup cukup lama.

 Industri rumah tangga yang ada di Kecamatan Pule Kabupaten Trenggalek pada saat ini sangat banyak yang memproduksi minyak Atsiri dari bahan baku nilam tetapi ada juga, masyarakat yang memproduksi minyak cengkeh sebagai tambahan pendapatan keluarga mereka. Minyak atsiri banyak dipasarkan di daerah Tulungagung, Blitar, Malang, bahkan ada pula yang pemasarannya sampai ke Jakarta. Dalam usaha peningkatan pemasaran, industri rumah tangga dihadapkan pada permasalahan dengan banyak munculnya penyulingan minyak nilam didaerah lain. Sehingga menimbulkan persaingan yang ketat didalam memasarkan barang dalam wilayah jawa timur.
 
Ketatnya persaingan dapat menghambat keberhasilan para penyuling atau home industri dalam meningkatkan volume penjualan, luas pangsa pasar, dan keuntungan. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan home industri antara lain, kapasitas produksi, teknologi produksi, persediaan bahan baku, tenaga kerja, kemasan, jangkauan distribusi, harga dan promosi. Untuk itu peran manajemen pemasaran sangat menentukan dalam meningkatkan efektifitas dan tercapainya sasaran perusahaan seperti perluasan pangsa pasar dan keuntungan. Manajemen pemasaran nantinya akan memunculkan berbagai strategi-strategi pemasaran untuk mengatasi masalah perusahaan atau  industri rumah tangga baik dalam lingkungan internal industri rumah tangga maupun lingkungan eksternal industri rumah tangga. Linkungan internal dan eksternal industri rumah tangga yaitu meliputi kekuatan, kelemahan , peluang, dan ancaman. Untuk mengetahui faktor-faktor internal dan eksternal home industri diperlukan analisa SWOT (Strengts, Weakness, Opportunity, Threats), karena akan memudahkan dalam pemilihan dan penetapan strategi pemasaran dalam upaya meningkatkan keuntungan volume penjualan, dan luas pangsa pasar. Mengingat pentingnya manajemen dan strategi pemasaran untuk keberhasilan suatu industri rumah tangga minyak atsiri, maka diperlukan penelitian dengan berjudul “STRATEGI PEMASARAN MINYAK ATSIRI  DI  KECAMATAN PULE KABUPATEN TRENGGALEK”. 

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Pendidikan Pondok Pesantren Tradisonal dalam Persepktif Pendidikan Islam Indonesia (AI-56)

BAB I
PENDAHULUAN

1.                  LATAR BELAKANG MASALAH
Pendidikan merupakan suatu proses di dalam menemukan transformasi baik dalam diri, maupun komunitas. Oleh sebab itu, proses pendidikan yang benar adalah membebaskan seseorang dari berbagai kungkungan, intimidasi, dan ekploitasi. Disinilah letak afinitas dari paidagogik, yaitu membebaskan manusia secara konfrehensif dari ikatan-ikatan yang terdapat diluar dirinya atau dikatakan sebagai sesuatu yang mengikat kebebasan seseorang. 

Hal ini terjadi jika pendidikan dijadikan instrumen oleh sistem penguasa yang ada hanya untuk mengungkung kebebasan individu. Secara memis pendidikan yang ada di Indonesia adalah sebagian kecil yang terdesain dan terorganisir oleh bingkai sistem. Gambaran sistem semacam itu merupakan bentuk pemaksaan kehendak dan merampas kebebasan individu, kesadaran potensi, beserta kreativitas bifurkasi. Maka pendidikan telah berubah menjadi instrumen oppressive bagi perkembangan individu atau komunitas masyarakat (Tilaar, 2004: 58).

Maka dari pada itu, pendidikan adalah merupakan elemen yang sangat signifikan dalam menjalani kehidupan. Karena dari sepanjang perjalanan manusia pendidikan merupakan barometer untuk mencapai maturasi nilai-nilai kehidupan. Ketika melihat dari salah satu aspek tujuan pendidikan nasional sebagai mana yang tercantum dalam UU RI SISDIKNAS No. 20 Tahun 2003, tentang membentuk manusia yang berbudi pekerti luhur melalui proses pembentukan kepribadian, kemandirian dan norma-norma tentang baik dan buruk. Sedangkan menurut Widagdho, manusia sebagai makhluk pengemban etika yang telah dikaruniai akal dan budi. Dengan demikian, adanya akal dan budi menyebabkan manusia memiliki cara dan pola hidup yang multidimensi, yakni kehidupan yang bersifat material dan bersifat spritual (2001: 8).


Begitu pentingnya pendidikan bagi setiap manusia, karena tanpa adanya pendidikan sangat mustahil suatu komunitas manusia dapat hidup berkembang sejalan dengan cita-citanya untuk maju, mengalami perubahan, sejahtera dan bahagia sebagaimana pandangan hidup mereka. Semakin tinggi cita-cita manusia semakin menuntut peningkatan mutu pendidikan sebagai sarana pencapaiannya. Hal ini telah termaktub dalam al-Qur’an surat al-Mujadalah ayat 11:

يرفع الله الدين امنوا منكم والدين اوتواالعلم درجت
Artinya :
Allah SWT akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (Depag RI, 1974: 911).

Relevan dengan hal tersebut, maka penyelenggaraan pendidikan tidak dapat dilepaskan dari tujuan yang hendak dicapai. Buktinya dengan penyelenggaraan pendidikan yang kita alami di Indonesia. Tujuan pendidikan mengalami perubahan yang terus menerus dari setiap pergantian roda kepemimpinan. Maka dalam hal ini sistem pendidikan nasional masih belum mampu secara maksimal untuk membentuk masyarakat yang benar-benar sadar akan pendidikan. 

Melihat fenomena yang terjadi pada saat sekarang ini banyak kalangan yang mulai melihat sistem pendidikan pesantren sebagai salah satu solusi untuk terwujudnya produk pendidikan yang tidak saja cerdik, pandai, lihai, tetapi juga berhati mulia dan berakhlakul karimah. Hal tersebut dapat dimengerti karena pesantren memiliki karakteristik yang memungkinkan tercapainya tujuan yang dimaksud. 

Karena itu, sejak lima dasawarsa terakhir diskursus diseputar pesantren menunjukkan perkembangkan yang cukup pesat. Hal ini tercermin dari berbagai focus wacana, kajian dan penelitian para ahli, terutama setelah kian diakuinya kontribusi dan peran pesantren yang bukan saja sebagai “sub kultur” (untuk menunjuk kepada lembaga yang bertipologi unik dan menyimpang dari dari pola kehidupan umum di negeri ini) sebagaimana disinyalir Abdurrahman Wahid (1984 : 32) Tetapi juga sebagai “institusi kultural” (untuk menggambarkan sebuah pendidikan yang punya karakter tersendiri sekaligus membuka diri terhadap hegemoni eksternal). sebagaimana ditegaskan oleh Hadi Mulyo (1985 : 71).

Dikatakan unik, karena pesantren memiliki karakteristik tersendiri yang khas yang hingga saat ini menunjukkan kemampuannya yang cemerlang melewati berbagai episode zaman dengan kemajemukan masalah yang dihadapinya. Bahkan dalam perjalanan sejarahnya, Ia telah memberikan andil yang sangat besar dalam ikut serta mencerdaskan kehidupan Bangsa dan memberikan pencerahan terhadap masyarakat.

Menurut Rahim (2001 : 28), pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan tertua yang melekat dalam perjalanan kehidupan Indonesia sejak ratusan tahun yang silam, ia adalah lembaga pendidikan yang dapat dikategorikan sebagai lembaga unik dan punya karakteristik tersendiri yang khas, sehingga saat ini menunjukkan kapabilitasnya yang cemerlang melewati berbagai episode zaman dengan pluralitas polemik yang dihadapinya. Bahkan dalam perjalanan sejarahnya, pesantren telah banyak memberikan andil dan kontribusi yang sangat besar dalam ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa dan memberikan pencerahan terhadap masyarakat serta dapat menghasilkan komunitas intelektual yang setaraf dengan sekolah gubernemen.

Oleh karena itu tak mengherankan bila pakar pendidikan sekalas Ki Hajar Dewantoro dan Dr. Soetomo pernah mencita citakan model system pendidikan pesantren sebagai model pendidikan Nasional. Bagi mereka model pendidikan pesantren merupakan kreasi cerdas budaya Indonesia yang berkarakter dan patut untuk terus dipertahan kembangkan. 

Menurut Nur Cholis Madjid, Seandainya Indonesia tidak mengalami penjajahan, maka pertumbuhan sistem pendidikan Indonesia akan mengikuti jalur pesantren sebagaimana terjadi di Barat yang hampir semua universitas terkenal cikal bakalnya adalah perguruan perguruan yang semula berorientasi keagamaan semisal univ. Harvard. Sehingga yang ada bukan UI, ITB, UGM, UNAIR dan lain sebagainya, tetapi mungkin Univ. Tremas, Univ. Krapyak, Tebuireng, Bangkalan dan seterusnya.( 1997 : 22) 

Yang menarik untuk ditelaah adalah mengapa Pesantren --baik sebagai lembaga pendidikan maupun lembaga sosial-- masih tetap survive hingga saat ini ? Padahal sebelumnya banyak pihak yang memperkirakan pesantren tidak akan bertahan lama ditengah perubahan dan tuntutan masyarakat yang kian plural dan kompetitif, bahkan ada yang memastikan pesantren akan tergusur oleh ekspansi sistem pendidikan umum dan modern.

Tak kurang dari Sutan Ali Syahbana yang mengatakan bahwa sistem pendidikan pesantren harus ditinggalkan, menurutnya mempertahankan sistem pendidikan pesantren sama artinya dengan mempertahankan keterbelakangan dan kejumuan kaum muslimin (1997 : 11). Ada juga yang dengan sinis menyebutkan sistem pendidikan pesantren hanyalah fosil masa lampau yang sangat jauh untuk memainkan peran di tengah kehidupan global.

Penilaian psimis ini bila dilacak muncul dari ketidak akuratan melihat profil Pesantren secara utuh, artinya memang melihat pesantren “hanya sebagai lembaga tua dengan segala kelemahannya” tanpa mengenal lebih jauh watak watak barunya yang terus berkembang dinamik, akan selalu menghasilkan penilaian yang simplifikatif atau bahkan reduktif. 

Dari sinilah peneliti tergelitik untuk melakukan penelitian terhadap pendidikan pondok pesantren tradisional dalam perspektif pendidikan Islam Indonesia dalam rangka mencari sesuatu yang belum tersentuh dan tidak terfikirkan oleh sistem pendidikan Islam di Indonesia.
Penelitian ini bergulat dengan refleksi pendidikan Islam di Pondok Pesantren tradisional dalam bentuk deskriptif. Salah satu tujuannya untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya pendidikan Islam di dunia ini serta meciptakan pemahaman pendidikan Islam yang lebih progresif konstekstual sehingga mampu menjawab tantangan zaman.

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Strategi Penyelenggaraan Pemerintahan Yang Baik Dan Bersih Pada Tingkat Kecamatan (Suatu Studi Pada Kantor Kecamatan Dongko Kabupaten Trenggalek ) (AN-19)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1          Latar Belakang
Dalam konsideran Undang-undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang  Bebas dan Bersih dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, dikemukakan bahwa untuk mewujudkan penyelenggaraan Negara yang mampu menjalankan fungsi dan tugasnya secara           sungguh-sungguh dan penuh tanggungjawab, perlu diletakkan asas-asas penyelenggaraan Negara yang bebas dari praktek korupsi, kolusi dan nepotisme serta perbuatan tercela lainnya.

Apabila hal tersebut diatas dapat dilaksanakan dengan baik maka diharapkan bisa menyelenggarakan pemerintahan yang baik dan bersih sesuai dengan bunyi dalam konsideran Undang-undang Nomor 28 Tahun 1999 dimaksud. Oleh karena itu sebagai penyelenggara pemerintahan yang dalam hal ini adalah pemerintahan ditingkat kecamatan, karena dalam melaksanakan tugas sehari-hari selain melaksanakan tugas–tugas pemerintahan secara umum yang termasuk didalamnya adalah hal-hal terkait dengan pembangunan, pembinaan masyarakat maka kecamatan juga dituntut untuk memberikan pelayanan yang baik dalama arti berkualitas kepada masyarakat yang menjadi lingkup kewenangannya. Lebih lanjut dapat dijelaskan bahwa organisasi sebagai alat dalam administrasi dan manajemen harus dikaitkan dengan kemampuan manusia didalam organisasi, karena bergerak dan tidaknya organisasi kearah pencapaian tujuan yang telah ditentukan sangat tergantung pada kemampuan manusia dalam organisasi yang bersangkutan untuk menggerakkan organisasi tersebut kearah yang telah ditentukan.
 
Agar orang-orang bekerja dalam organisasi tersebut dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, maka diperlukan seorang pemimpin yang dapat memotivasi dan mengarahkan segala sumber daya yang ada dalam organisasi kearah pencapaian tujuan. Dalam proses untuk mengarahkan dan memotivasi segala sumber daya manusia maka diperlukan adanya interaksi antara orang-orang didalam organisasi tersebut, karena tanpa adanya interaksi antara pimpinan dan staf atau antara unsur staf dengan staf lainnya sesuai dengan kesepakatan dalam organisasi maka tidak mungkin organisasi tersebut bisa berjalan dengan baik. Dalam pelaksanaannya kita juga memperhatikan adanya prinsip-prinsip organisasi diantaranya adalah tujuan yang jelas, tujuan organisasi harus dipahami oleh setiap personil dalam lingkungan organisasi tersebut, adanya pendelegasian wewenang secara jelas dan adanya koordinasi integrasi dan sinkronisasi. Dalam suatu organisasi kecamatan sangat diperlukan adanya aparatur yang dapat memahami dan fungsinya serta seorang pemimpin organisasi yang mampu mengembangkan jiwa kepemimpinan sehingga dapat menggerak-kan organisasi dengan efektif dan efisien.

Berkenaan dengan hal tersebut diatas maka untuk dapat melaksanakan tugas-tugas dengan baik sangat dibutuhkan cara atau strategi yang tepat. Dalam menentukan strategi yang tepat tersebut tentunya harus diketahui adanaya kekuataan dan kelemahan yang ada dalam organisasi tersebut, selanjutnya juga harus melihat dan memahami adanya peluang serta tanyangan yang ada atau dengan kata lain adalah bagaimana kita dapat membawa organisasi yaitu pemerintah kecamatan menuju dan berhasil dalam tercapainya suatu tujuan.

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Terhadap Perijinan Tempat Usaha Di Kabupaten Magetan (AN-18)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.            Latar Belakang

Rendahnya pelayanan publik di Indonesia sudah lama menjadi keluhan masyarakat . Birokrasi  kita terkenal sebagai birokrasi yang berbelit-belit dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Bahkan istilah-istilah “ Kalau  bisa dipersulit kenapa dipermudah, kalau bisa diperlama kenapa dipercepat, kalau bisa mahal kenapa murah “ , dimana kata-kata tersebut sudah melekat pada birokrasi di Indonesia. Pelayanan publik pada hakekatnya dirancang dan diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Tetapi pada kenyataannya, pelayanan yang diberikan terlalu berbelit-belit, tidak fleksibel, banyak biaya, memerlukan waktu yang lama. Dengan kata lain pelayanan publik yang diberikan tidak efektif dan efisien.

Kondisi yang demikian itu membuat masyarakat sebagai pengguna layanan publik, enggan mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan urusan birokrasi pemerintah. Keengganan masyarakat dalam mengurus segala macam urusan yang berkaitan dengan pemerintah merupakan salah satu dampak dari rendahnya kinerja pelayanan birokrasi.

Salah satu kasus yang berkaitan dengan masalah pelayanan publik adalah masalah perijinan tempat usaha. Melihat kendala   yang  dihadapi oleh masyarakat dalam mengurus perijinan, maka hal ini merupakan tatangan tersendiri bagi pemerintah yang berkaitan dengan perijinan untuk memfasilitasi masyarakat dengan meningkatkan kinerja pelayanan perijinan tempat usaha pada masyarakat melalui strategi pelayanan prima. Peningkatan kualitas pelayanan harus memenuhi prinsip-prinsip pelayanan yang sederhana, jelas dan pasti, aman, terbuka, efisien dan ekonomis, adil serta tepat waktu.
 
Hal yang menarik yang perlu diketahui adalah bahwa dalam era otonomi daerah ini pemerintah pusat memberikan peluang kepada daerah untuk menjalankan kewenangannya guna melakukan  kreasi dan inovasi dalam rangka pelayanan yang lebih baik, namun peluang ini belum banyak dimanfaatkan oleh daerah. Dalam hal ini karena bilia dilihat Kabupaten Magetan sebagai kota yang memiliki potensi sebagai sentral usaha, karena apabila para pengusaha mau melaksanakan perijinan tempat usaha, maka akan dapat membantu peningkatan Pendapatan Asli Daerah melalui Retribusi ijin perusahaannya yang selanjutnya akan dapat mendukung otonomi daerah yang kokoh.

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Mekanisme Perencanaan Dan Penganggaran Kegiatan Pembangunan Daerah Kabupaten Magetan ( Studi Pada Bappeda Kabupaten Magetan ) (AN-17)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Pembangunan Daerah Kabupaten Magetan, sebagaimana pembangunan daerah lain,  adalah merupakan  pembangunan  yang  berkelanjutan  dan  berkesinambungan. Oleh  karena  itu pembangunan  daerah  saat  ini  dan  yang  akan  datang  merupakan kelanjutan dari pembangunan-pembangunan yang telah dilakukan sebelumnya berikut hasil-hasil yang telah dicapai baik keberhasilan muapun kegagalan.

Untuk menjamin keberhasilan pembangunan daerah, maka selama ini Pemerintah Kabupaten Magetan menggunakan pendekatan lintas sektoral yang bersifat komprehensif baik dalam perencanaan maupun pelaksanaan pembangunan. Pendekatan ini dimaksudkan untuk memelihara konsistensi pembangunan daerah dan benar-benar sesuai dengan tuntutan kegiatan pembangunan yang didasarkan pada skala prioritas, potensi daerah dan efisiensi, atas dasar prinsip pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan, serta menjamin keterpaduan kebijaksanaan antara semua sektor pembangunan dengan tetap berorientasi pada kepentingan rakyat banyak.

Dengan menggunakan pendekatan yang komprehensif tersebut ternyata pelaksanaan pembangunan di daerah telah mampu menunjukkan gelombang kemajuan yang semakin meningkat dan merata di berbagai bidang. Sebagai konsekwensi keberhasilan pembangunan tersebut maka tuntutan dan tantangan yang dihadapi dalam kelanjutan pembangunan  menjadi semakin  luas cakupan  dan  ruang  lingkupnya.  Sementara itu sumber-sumber pembangunan yang di dalamnya termasuk kemampuan organisasi perencanaan dalam kondisi yang terbatas, dan belum memadai untuk melaksanakan fungsi perencanaan secara efektif.


Untuk  mengatasi  kendala  tersebut  dan  guna  mencapai  hasil  pembangunan yang  berdaya guna  dan  berhasil  guna  pada  pemantapan  kerangka  tinggal  landas, perlu disusun sutau perencanaan pembangunan terpadu dengan pendekatan yang berdasarkan pada sumber-sumber daya yang serba terbatas dalam suatu perencanaan pembangunan  strategis  selektif dan  difokuskan  pada  pemecahan  masalah-masalah  yang dihadapi secara tepat dan terarah. Pendekatan ini disusun melalui sistem analisis perencanaan strategis yang disebut kerangka  pembangunan  strategis.  Dengan  pendekatan  kerangka  pembangunan  strategis ( KPS ) tersebut, diharapkan akan dapat meningkatkan kualitas perencanaan pembangunan daerah.

Adapun  yang  dimaksud  dengan  kerangka  pembangunan  strategis ( KPS ) pada prinsipnya adalah suatu pendekatan perencanaan pembangunan daerah terpadu yang dilakukan secara selektif dengan memfokuskan pada kunci permasalahan dan peluang pembangunan inti dari daerah yang bersangkutan yang dipilih atas dasar kelompok sasaran yang dinilai paling kritis, baik ditinjau dari segi sosial ekonomi maupun kondisi dan potensi yang terkandung didalamnya.

Sebagai organisasi yang betugas membantu Kepala Daerah dalam penyelenggaraan kewenangan  Kabupaten  di  bidang  Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan Daerah, BAPPEDA  mempunyai  pedoman  yang  jelas  dalam  melaksanakan  mekanisme organisasi. Petunjuk pelaksanaan mekanisme organisasi bukanlah satu-satunya jaminan bahwa  kinerja organisasi  tersebut  telah  sesuai  dengan  aturan-aturan  yang  telah  dibuat sebagai pedoman. Adakalanya pelaksanaan operasional tidak sesuai dengan pedoman yang telah digariskan. Begitu juga dengan BAPPEDA, dalam pelaksanaan perencanaan pembangunan yang dilakukan belum tentu sama atau sesuai dengan mekanisme pelaksanaan perencanaan pembangunan atau yang lazim disebut sebagai pedoman pelaksanaan organisasi.

Dengan demikian paradigma diatas merupakan suatu hal yang menarik untuk dikaji dan perlu dibuktikan kebenarannya. Untuk membuktikan kebenaran paradigma diatas, tentu saja membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini