This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Saturday, January 12, 2013

Prilaku Sifat Dan Mausuf Dalam Hubungan Sintaksis Bahasa Arab (PAI-12)

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Sebagai manusia kita tidak akan pernah berhenti saling berinteraksi dengan manusia yang lainnya karena antara manusia yang satu dengan yang lainnya sangat saling membutuhkan dan sebagian cara berinteraksi manusia dengan manusia yang lainnya adalah dengan cara komunikasi antara sesama, baik itu dengan bahasa lisan atau bahasa tulisan. Sebagai media komunikasi berbagai Bahasa mengalami kemajuan sejalan dengan perkembangan budaya-masing-masing termasuk Bahasa Arab. Bahkan Bahasa Inggris dan Bahasa Arab sudah dijadikan Bahasa Internasional dan kedua bahasa ini dijadikan sebagai mata pelajaran yang penting di Lembaga Pendidikan yang berciri khas Agama Islam. Dalam mempelajari bahasa-bahasa tersebut para siswa tidak akan luput dari kesulitan-kesulitan, karena bahasa-bahasa tersebut sangat variatif dan mempunyai aturan-aturan yang sangat banyak terutama Bahasa Arab. 

Bahasa Arab merupakan bahasa yang memiliki tingkat kemajuan yang sangat pesat, sehingga Bahasa Arab sangat potensial untuk dijadikan sebagai Bahasa Internasional, karena Bahasa Arab dijadikan sebagai  pelajaran yang sangat mendasar di lembaga-lembaga pendidikan terutama Lembaga Pendidikan yang bernaung di bawah Depertemen Agama.
 
Mempelajari Bahasa Arab, tidak akan pernah sempurna hanya dengan mempelajari Bahasa Arab itu sendiri, karena siswa akan menemukan kesulitan-kesulitan yang dihadapi, sehingga memperlambat siswa dalam memahami Bahasa Arab tersebut. Membicarakan kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh para siswa dalam mempelajari Bahasa, terutama Bahasa Arab, maka kita akan membicarakan pelajaran-pelajaran yang sangat mendukung para siswa untuk lebih cepat memahami Bahasa Arab terutama pelajaran Nahwu, karena dengan pelajaran Nahwulah para siswa bisa berbahasa Arab dengan baik dan benar, bahkan dalam sebuah syair Bahasa Arab telah di sebutkan “ﻢﻬﻓﻴﻦﻠﻪﻧﻭﺩﻢﻼﻜﻠﺍﺬﺍ” (Muhammad, ibnu Aqil) yang artinya “Perkataan tanpa Ilmu Nahwu maka perkataan tersebut sulit dipahami”. Dengan demikian pelajaran Nahwu merupakan pelajaran dasar bagi para siswa untuk bisa berbahasa dengan baik dan benar. Tapi sering kita jumpai banyak para siswa yang mengeluh dengan pelajaran Nahwu, karena siswa  sering salah dalam menggunakan atau  menerapkan kaidah atau aturan  yang ada dalam pelajaran Nahwu tersebut. Terutama mengenai sifat dan mausuf (Na’at dan Man’ut) padahal Sifat dan Mausuf merupakan hubungan sintaksis frasiologis yang tidak mencapai makna klausa yang banyak digunakan dalam berbahasa, baik bahasa lisan atau tulisan. Kemudian dalam penerapan hubungan sintaksis sifat dan mausuf sering kali terjadi kesalahan di kalangan pengguna Bahasa Arab, baik di Madrasah, Pondok pesantren, dan di Perguruan Tinggi khususnya di kalangan Mahasiswa STAIN sendiri. 

Dengan adanya fenomena seperti inilah yang menarik minat pengkaji untuk mengadakan kajian dengan judul “PRILAKU SIFAT DAN MAUSUF DALAM HUBUNGAN SINTAKSIS BAHASA ARAB “ . 

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Etika Hubungan Guru Dan Siswa Dalam Proses Belajar-Mengajar Di Mts. Nurul Hikmah Padak Lembar Lombok Barat (PAI-11)

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kemajuan yang berlangsung saat ini dan mungkin di saat yang akan datang berlangsung cepat, beragam, dinamis dan sukar diramalkan. Agar bisa mengikuti, mensucikan diri dan berkiprah dengan kemajuan-kemajuan yang sangat cepat tersebut kuncinya adalah pada belajar.

Dalam era globalisasi dan pasar bebas, serta persaingan ketat antar bangsa dalam mempertahankan pasar, manusia diharapkan pada perubahan-perubahan yang cepat dan sinergis. Ibarat nelayan di lautan lepas yang dapat menyesatkan, jika tidak memiliki kompas sebagai pedoman untuk bertindak dan mengarunginya.

Perkembangan yang cepat dari lingkungan yang cepat harus diimbangi oleh perkembangan yang cepat pula dari individu warganya. Untuk itu setiap individu warga planet bumi ini dituntut untuk belajar. Lebih banyak belajar, meningkatkan kemampuan, motivasi dan upaya belajarnya, sehingga tercipta masyarakat belajar. Individu warga wasyarakat yang banyak belajar akan mempercepat perkembangan masyarakatnya, perkembangan masyarakat yang cepat menuntut warga masyarakat belajar lebih banyak lebih intensif.

Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan tibal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa itu merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses belajar mengajar. Interaksi dalam proses belajar mengajar mempunyai arti yang lebih luas, tidak sekedar hubungan guru dan siswa tetapi berupa interaksi edukatif. Dalam hal ini bukan hanya penyampaian pesan berupa materi pelajaran, melainkan penanaman sikap dan nilai pada diri siswa yang sedang belajar (Usman, 1995:4).


Dalam proses belajar mengajar tersirat adanya suatu kegiatan yang tidak terpisahkan antara siswa yang belajar dan guru yang mengajar. Antara kedua kegiatan ini terjalin interaksi yang saling mendukung
Dalam hubungan guru terhadap anak didik, Islam memberikan tuntunan yang amat baik sekali dalam hal perlakuan guru terhadap anak didik yang sesuai dengan fitrah manusia, sebab Islam memang diciptakan oleh Allah sesuai dengan fitrah manusia.

Adapun tuntunan Islam dalam hal ini, yang terpenting diantaranya adalah: 1). kasih sayang, 2). lemah lembut, 3). memberikan kemerdekaan (tidak dipaksa), 4). memberikan penghargaan, 5). menyesuaikan dengan perkembangan anak didik, 6). mengarahkan ke masa depan, 7). berbicara dengan anak didik dengan benar, baik, lemah lembut dan udah dimengerti, 8).disiplin (Zaini, 1986:115-120).

Perlakuan guru sebagai pendidik kepada siswanya selaku anak didik populer dengan istilah etika etika hubungan guru dan siswa. Salam (2000:4) menyatakan bahwa “istilah lain dari etika, biasanya digunakan kata; moral, adab, susila, budi pekerti, akhlak (arab = akhlaq )”.
Untuk menumbuhkan motivasi dan upaya untuk belajar lebih lanjut, perlu penyebaran isi, proses maupun iklim pembelajaran, belajar di sekolah hendaknya dirasakan oleh para pelajar sebagai hal yang bermanfaat dan menyenangkan. Bila hal tersebut telah tercipta, maka akan tercipta pula suasana timbal balik antara guru dan siswa dalam proses belajar mengajar.

Peluang-peluang, ancaman dan hambatan yang dihadapi, kemudian dilanjutkan dengan menumbuhkan kepercayaan diri, dan motivasi untuk maju setelah ada kepercayaan diri, bahwa dirinya memiliki kekuatan, potensi dan kemampuan, tumbuh motivasi untuk mau berubah, mau belajar, mau berusaha, maka kegiatan belajar bisa dimulai. 

Terciptanya masyarakat belajar dan individu-individu pembelajar di dalamnya merupakan keharusan di masa kini dan mendatang. Apabila tidak, maka kita akan tertinggal, dan tertinggal jauh dari masyarakat lain yang telah banyak belajar pembentukan masyarakat belajar, diawali oleh pembentukan individu-individu yang menjadi warganya. Pengubahan individu yang santai menjadi individu yang gesit dan suka berkerja keras, individu konsumtif menjadi produktif, individu penerima menjadi individu pemberi, individu yang mudah menyerah pada keadaan menjadi individu yang gigih merubah keadaan, menuntut penambahan perubahan tersebut diawali pada perubahan presepsi dan sikap, baik terhadap dirinya, maupun terhadap masyarakat dan lingkungannya.

Upaya untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya manusia (SDM) merupakan tugas besar dan membutuhkan jangka waktu yang panjang, karena mengangkat pendidikan bangsa, dan masa depan suatu bangsa banyak ditentukan oleh kualitas pendidikannya.
Pembinaan tersebut perlu mendapatkan perhatian yang sangat serius baik dari pemerintah, maupun lembaga-lembaga swasta. Hal tersebut disebabkan karena pribadi dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang bermutu menjadi syarat mutlak bagi keberhasilan pembangunan. Pembinaan potensi dan kekuatan ini memerlukan pendekatan metode dan prosedur yang tepat, agar memberikan hasil yang optimal.

Sukmadinata (2004:179), menyatakan bahwa aktivitas dan produk yang dihasilkan dari aktivitas belajar mendapatkan penilaian tidak hanya dilakukan secara tertulis, tetapi juga secara lisan dan perbuatan.
Berkenaan dengan etika hubungan guru dan siswa, peneliti melihat bahwa di MTs. Nurul Hikmah terjalin hubungan yang relatif kondusif antara guru dan siswa dalam proses belajar mengajar. Hal ini menjadikan peneliti tertarik untuk memilih penelitian yang terkait dengan tersebut dengan judul: “Etika Hubungan Guru dan Siswa dalam Proses Belajar Mengajar di MTs. Nurul Hikmah Padak Lembar Lombok Barat”.
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Program Dan Pembinaan Perilaku Siswa Mts Melalui Pembelajaran Tauhid Di Madrasah Diniyah Al-Falah Pancordao Lombok Tengah Tahun 2006 (PAI-10)



BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Anak yang yang dapat menguasai dan menerapkan ilmu agama (soleh) merupakan dambaan setiap orang tua. Tidak seorangpun orang tua yang tidak mendambakan anak tumbuh menjadi anak yang soleh dan solehah. Tetapi kenyataannya banyak sekali anak-anak yang berperilaku buruk. Kenyataan ini tentu sangat mengecewakan pihak kedua orang tua.

Oleh karena itu, para orang tua hendaknya mengetahui bagaimana mendidik anaknya agar mereka tumbuh menjadi insan yang baik, insan yang soleh dan solehah, yang berhubungan baik dengan Allah, dan berhubungan baik sesama manusia, dengan akhlak yang baik dan tentu berbakti kepada kedua orang tua. Hal ini tidak terlepas dari bagaimana orang tua itu harus mendidik dan memberi contoh yang baik agar terbentuk pribadi yang diinginkan, karena biasanya anak yang belum dewasa akan selalu melihat dan meniru tabi’at orang tuanya. Orang tua yang terbiasa beperilaku baik, berakhlak baik, maka dalam diri anak pun akan tumbuh dengan ketaatan dan mengikuti apa yang dicontohkan orang tua, begitu pula sebaliknya. 

Anak adalah mahluk yang sedang tumbuh, oleh karena itu pendidikan penting sekali sejak bayi untuk mempertahankan maupun merawat diri, dan semuanya itu tergantung kedua orang tuanya. Mengingat keterbatasan orang tua sebagai pendidik, maka selain mendidik di rumah/keluarga maka anak disekolahkan. Dengan demikian, pokok pendidikan dapat tercapai secara keseluruhan dan ini tidak mungkin dilakukan sekali jadi, melainkan memerlukan waktu yang amat panjang, yaitu mulai dari rumah sejak kanak-kanak hingga menginjak dewasa.
 
Dalam kaitannya dengan hal tersebut, para pendidik harus selektif dalam memilih dan memikirkan moral yang harus dikembangkan dan dibina pada anak didik. Karena hal itu tidak cukup hanya dengan mengisi ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya pada anak didik atau hanya menekankan segi intelektual saja.

Masalah perilaku adalah merupakan suatu masalah yang sangat mendasar bagi setiap pribadi muslim dalam kehidupan sehari-hari yang mampu mewarnai segala sikap dan prilakunya baik ketika berhubungan dengan manusia maupun ketika berhubungan dengan alam sekitar, terlebih lagi dalam berhubungan dengan Allah SWT. menuju keselamatan dunia dan akhirat.

Dalam kaitannya dengan hal ini, para filosof Islam mengatakan bahwa betapa pentingnya periode anak dalam menentukan pribadi/budi pekerti dan pembiasaan anak kepada tingkah laku yang baik pada masa kecilnya. Para filosof Islam juga berpendapat bahwa pendidikan anak sejak kecilnya harus mendapatkan perhatian yang penuh.
Hal ini menjadikan orang tua memilih menyekolahkan anaknya ke Pondok Pesantren atau Madrasah. Pondok Pesantren atau Madrasah disamping mendidik dalam pengusaan ilmu pengetahuan, lembaga ini juga memberikan pembinaan terhadap perilaku siswa. Pembinaan perilaku yang dilakukan oleh Pondok Pesantren atau Madrasah, biasanya difokuskan pada Madrasah Diniyah masing-masing Pondok Pesantren.

Madrasah Diniyah bukanlah lembaga pendidikan formal yang mengikuti kurikulum nasional yang ditetapkan oleh Diknas maupun Depag. Namun, pada hakekatnya tujuan didirikannya Madrasah Diniyah adalah untuk memeberikan pendidikan ilmu-ilmu agama yang cukup kepada para santri.

Eksistensi Madrasah Diniyah semakin dibutuhkan tatkala “jebolan” pesantren yang menyelenggarakan pendidikan formal (sistem kurikulum nasional) ternyata kurang “mumpuni” dalam penguasaan ilmu agama (Haedari dan El-Saha, 2004 : 91).
MTs. Al-Falah yang berada di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Al-Falah kampung Pancor Dao, Aik Darek Kecamatan Batu Kliang adalah salah satu contoh pondok pesantren yang memfokuskan pembinaan perilaku/akhlak melalui pembinaan santrinya di Madrasah Diniyah. Program tersebut dinilai berhasil karena dengan adanya program tersebut siswa MTs. Memiliki kepribadian yang relatif meningkat lebih baik.

Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti merasa tertarik untuk memilih penelitian yang terkait dengan tersebut dengan judul “Program dan Pembinaan Perilaku Siswa MTs melalui Pembelajaran Tauhid di Madrasah Diniyah Al-Falah Pancordao Lombok Tengah Tahun 2006”.

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Pembelajaran Kitab Kuning Dengan Arab Pegon (PAI-9)

BAB I

PENDAHULUAN

Arab pegon, sebenarnya hanya merupakan ungkapan yang digunakan oleh orang Jawa, sedangkan untuk daerah Sumatera disebut dengan aksara Arab-Melayu6. Jadi, huruf Arab pegonatau disebut dengan aksara Arab-Melayu ini merupakan tulisan dengan huruf Arab tapi menggunakan bahasa lokal. Dikatakan bahasa lokal karena ternyata tulisan Arab pegon itu tidak hanya menggunakan Bahasa Jawa saja tapi juga dipakai di daerah Jawa barat dengan menggunakan Bahasa Sunda, di Sulawesi menggunakan Bahasa Bugis, dan di wilayah Sumatera menggunakan Bahasa Melayu. 

Keberadaan Arab pegon di Nusantara sangat erat kaitannya dengan syi’ar Agama Islam, diduga merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh para ulama sebagai upaya menyebarkan Agama Islam7. Selain itu aksara Arab ini juga digunakan dalam kesusasteraan Indonesia. Menurut Prof. Dr. Koentjaraningrat, dalam kesusasteraan Jawa ada juga yang ditulis dengan tulisan pegon atau gundhil, penggunaan huruf ini terutama untuk kesusasteraan Jawa yang bersifat agama Islam,8aksara Arab yang dipakai dalam Bahasa Jawa disebut dengan aksara Pegon.9Bukan hanya kesusasteraan Jawa saja tapi ternyata mencakup Nusantara karena menurut Drs. Juwairiyah Dahlan, bagi mereka yang mempelajari kesusasteraan Indonesia seringkali menggunakan aksara Arab ini, bahkan di Malaysia disebut dengan aksara Jawi.

Dengan aksara Arab ini, telah ditulis dan dikarang ratusan buku mengenai ibadah, hikayat, tasawuf, sejarah nabi-nabi dan rosul serta buku-buku roman sejarah.  Pada zaman penjajahan Belanda, sebelum tulisan latin diajarkan di sekolah-sekolah, seringkali aksara Arab dipergunakan dalam surat menyurat, bahkan dikampung-kampung pada umumnya sampai zaman permulaan kemerdekaan, banyak sekali orang yang masih buta aksara latin tetapi tidak buta aksara Arab, karena mereka sekurang-kurangnya dapat membaca aksara Arab, baik untuk membaca Al-Qur’an maupun menulis surat dalam bahasa daerah dengan aksara Arab.10Menurut Prof. Dr. Denys Lombard, menjelang tahun 1880 aksara Arab masih digunakan luas untuk menuliskan Bahasa Melayu dan beberapa bahasa setempat (seperti Bahasa Aceh atau Minangkabau) 11


Beragam usaha untuk mempertahankan penggunaan aksara Arab ini, salah satunya di daerah Sulawesi Selatan tepatnya di daerah Buton. Menurut Laode Zaedi,12  aksara Arab dengan Bahasa Bugis/Walio dianggap sebagai salah satu khasanah kebudayaan daerah dan kini sedang digalakkan pelestariannya, salah satu caranya yaitu dengan mengajarkan kepada murid-murid sekolah dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) hingga perguruan tinggi sebagai salah satu pilihan dalam kurikulum muatan lokal.  
Selain itu, keberadaan penggunaan Arab pegon di pondok pesantren terutama yang masih kuat kultur masyarakatnya13sampai saat ini masih tetap dipertahankan. Karena selama ini pesantren masih dianggap banyak membawa keberhasilan dalam pencapaian berhasilnya pelajaran dan pengajaran Bahasa Arab. Penerapan penerjemahan kitab kuning dengan menggunakan Arab pegondalam pengajarannya biasa disebut dengan Ngabsahi14atau Ngalogat15dalam menerjemahkan dan memberi makna pada Kitab Kuning.

Pengertian umum yang beredar di kalangan pemerhati masalah pesantren adalah bahwa kitab kuning selalu dipandang sebagai kitab-kitab keagamaan berbahasa arab, atau berhuruf arab, sebagai produk pemikiran ulama masa lampau (as-salaf)yang ditulis dengan format khas pra-modern, sebelum abad ke-17-an M. Dalam rumusan yang lebih rinci, definisi kitab kuning adalah kitab-kitab yang, ( a) ditulis oleh ulama-ulama “asing”, tetapi secara turun-temurun menjadi referenceyang dipedomani oleh para ulama indonesia, (b) ditulis oleh ulama Indonesia sebagai karya tulis yang “independen”, dan c) ditulis oleh ulama Indonesia sebagai komentar atau terjemahan atas kitab karya ulama “asing”. 

Dalam tradisi intelektual Islam, khususnya di timur tengah, dikenal dua istilah yang menyebut kategori karya-karya ilmiah berdasarkan kurun atau format penulisannya. Katagori pertama disebut kitab-kitab klasik (al-kutub al-qodimah), sedangkan kategori kedua disebut kitab-kitab modern (al-kutub al-ashriyyah). Perbedaan pertama dari yang kedua dicirikan, antaara lain,  cara penulisannya yang tidak mengenal pemberhentian, tanda baca (punctuation), dan kesan bahasanya yang berat, klasik, dan tanpa syakl (baca: sandangan- fatkhah, dhommah, kasroh). Dan sebutan kitab kuning pada dasarnya mengacu pada katagori yang pertama, yakni kitab-kitab klasik (al-kutub al-qodimah)

Spesifikasi kitab kuning secara umum terletak pada formatnya (lay-out), yang terdiri dari dua bagian: matn, teks asal (inti), dan syarh (komentar, teks penjelas atas matn). Dalam pembagian semacam ini, matnselalu di letakkan di bagian pinggir (margin) sebelah kanan maupun kiri, sementara syarh-karena penuturannya jauh lebih banyak dan panjang dibandingkan matn-diletakkan di bagian tengah setiap halaman kitab kuning. Ukuran panjang-lebar kertas yang digunakan kitab kuning pada umumnya kira-kira 26 cm (quarto). Ciri khas lainnya terletak dalam penjilidannya yang tidak total, yakni tidak dijilid seperti buku. Ia hanya dilipat berdasarkan kelompok halaman (misalnya, setiap 2 halaman) yang secara teknis dikenal dengan istilah korasan. Jadi, dalam satu kitab kuning terdiri dari beberapa korasan yang memungkinkn salah satu atau beberapa korasan itu dibawa secara terpisah. Biasanya, ketika berangkat ke majelis pengajian, santri hanya membawa korasantertentu yang akan dipelajarinya bersama sang kiai-ulama. 

Hal yang membedakan kitab kuning dari yang lainnya adalah metode mempelajarinya. Sudah dikenal bahwa ada dua metode yang berkembang di lingkungan pesantren untuk mempelajari kitab kuning: adalah metode sorogan dan metode bandongan. Pada cara pertama, santri membacakan kitab kuning dihadapan kiai-ulama yang langsung menyaksikan keabsahan bacaan santri, baik dalam konteks makna maupun bahasa (nahw dan sharf). Sementara itu, pada cara kedua, santri secara kolektif mendengarkan bacaan dan penjelasan sang kiai-ulama sambil masing-masing memberikan catatan pada kitabnya. Catatan itu bisa berupa syaklatau makna mufrodhat atau penjelasan (keterangan tambahan). Penting ditegaskan bahwa  di kalangan pesantren, terutama yang klasik (salafi), memiliki cara membaca tersendiri yang dikenal dengan cara utawi-iki-iku, sebuah cara membaca dengan pendekatan tata bahasa (nahw dan sharf) yang ketat. 

Selain kedua metode diatas, sejalan dengan usaha kontekstualisasi kajian kitab kuning, di lingkungan pesantren, dewasa ini telah berkembang  metode jalsah (diskusi kelompok) dan halaqoh(seminar). Kedua metode ini lebih sering digunakan ditingkat kiai-ulama atau pengasuh pesantren, namun sekarang pun sudah sering dilakukan oleh santri. Guna membahas isu-isu kontemporer dengan bahan-bahan pemikiran yang bersumber dari kitab kuning.16 
    
Ilustrasi berikut ini dapat memberikan suatu gambaran yang jelas bagaimana metode ini dilaksanakan dalam praktik:

                الحمد لله الدي فضل بني ادم بالعلم والعمل على جميع العالم    


Teks tersebut diatas diambil dari kitab Ta’lim al Muta’lim. Huruf-huruf besar syang horisontal adalah teks asli Bahasa Arab, sedangkan huruf-huruf kecil di antara tulisan horisontal yang ditulis miring kebawah adalah terjemahannya dalam bahasa Jawa. Teks asli dalam Bahasa Arab ditulis dengan vowels (dalam bahasa Jawa disebut nganggo sandangan) atau Arab Pegon. Murid-murid harus belajar dari kitab-kitab gundul yang ditulis tanpa huruf hidup atau tanpa syakal. Ilustrasi tersebut menunjukkan bagaimana cara penerjemahan teks Arab ke dalam Bahasa Jawa. Perkataan Arab Al-Hamdu lillahiditerjemahkan utawi sekabehane puji iku keduwe Alloh, yang berarti ”Segala puji adalah kepunyaan Alloh”. Perkataan Al hamdu yang didahului oleh al dan diakhiri dengan huruf hidup U (dzamah U) dan dalam Bahasa Jawa didahului dengan kata utawi dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa perkataan tersebut adalah mubtda’ atau pokok kalimat. Hal ini sangat penting untuk diketahui oleh murid-murid, sebab kitab-kitab yang diajarkan dalam metode sorogan dan bandongan ditulis tanpa syakal, sehingga untuk dapat membacanya dengan benar dan cocok  para murid harus menguasai tatabahasa Arab.17

Tulisan sebagai lambang tertulis dari suatu bahasa berfungsi sebagai alat untuk dibaca agar dipahami maksud yang terkandung didalamnya. Kemampuan membaca dipakai untuk memahami maksud tulisan sehingga membaca untuk menjadi paham. Pemakaian Bahasa Jawa dalam penulisan Arab Pegon sebagai sistem yang diterapkan di Pondok Pesantren merupakan salah satu simbol masuk dan bercampurnya Budaya Jawa sebagai usaha untuk lebih dapat memahami isi kitab kuning yang didalamnya menggunakan Bahasa Arab. 

Skripsi ini disusun sebagai salah satu upaya dalam pengembangan keilmuan yang mengkaji tentang permasalahan tradisi Arab pegon di pondok pesantren, dengan harapan dapat membantu mendudukkan pada proporsinya. Mengingat keterbatasan waktu dan pengetahuan, skripsi ini sengaja membatasi kajiannya pada proses penerjemahan kitab kuning dengan menggunakan Arab pegon saja.  

Pada kesempatan ini penulis mengambil studi kasus di Madrasah Salafiyah III, Komplek Q, Krapyak, Yogyakarta. Alasan pemilihan tempat merupakan salah satu hal yang sangat diperhatikan, selain karena secara geografis dekat dengan kampus Universitas Islam Negeri Yogyakarta, segala macam informasi mudah didapat, dan satu hal yang sangat penting yaitu karena Madrasah Salafiyah III ini masuk dalam lingkup salah satu pesantren tradisional yang dari awal pendiriannya hingga saat ini masih konsisten menggunakan Arab pegon.


Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Efektifitas Penggunaan Modul Pembelajaran Bidang Studi Agama Islam Kelas Ii Di Smp Terbuka Jereneng Batu Tulis (PAI-8)

BAB I
PENDAHULUAN
 
Latar Belakang Masalah
Sebagian sekolah, terutama di kota-kota, menunjukkan peningkatan mutu pendidikan yang cukup menggembirakan, namun di sisi lain masih memprihatinkan. Dalam rangka menjawab masalah dari banyak kalangan yang memiliki apresiasi tinggi terhadap pendidikan, namun mereka itu miskin dan menghadapi beragam kendala transportasi atau kendala geografis, kondisi sosial ekonomi, atau menghadapi kendala waktu untuk menyekolahkan anak-anaknya ke SLTP terdekat (SLTP Reguler). Anak-anak ini sebenarnya adalah juga anak-anak Indonesia yang mempunyai hak sama untuk memperoleh pendidikan yang layak. 

Untuk itu, menteri pendidikan dan kebudayaan membentuk sebuah tim yang diberi tugas untuk mengembangkan inovasi di bidang pelayanan pendidikan dengan menyusun suatu konsep pendidikan terbuka sebagai alternatif pada tingkat SLTP yang baik secara filosofis maupun teoritis dapat dipertanggungjawabkan, namun juga terjamin keterlaksanaannya (Diknas, 2002:3). Hal ini yang menjadi landasan filosofis terbentuknya SLTP Terbuka.

Sebagai langkah awal, pada tahun 1979/1980 pemerintah menyetujui uji-coba perintisan SLTP Terbuka dimulai di 5 propinsi, masing-masing satu sekolah untuk setiap propinsi (Diknas, 2002:4). Uji-coba SLTP Terbuka tersebut dilaksanakan di SLTP Negeri Kalianda  di Lampung, SLTP Negeri Plumbon di Jawa Barat, SLTP Negeri Adiwerna di Jawa Tengah, SLTP Negeri Kalisat di Jawa Timur dan SLTP Negeri Terara di Nusa Tenggara Barat. Kelima SLTP Terbuka ini dibuka secara resmi oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan secara bersamaan dalam surat keputusan.
 
Kurikulum yang digunakan pada SLTP Terbuka adalah sama dengan kurikulum yang digunakan pada SLTP Regurer. Oleh karena itu lulusan SLTP terbuka juga sama dengan lulusan SLTP Reguler. Meskipun program pembelajaran pada SLTP terbuka dirancang sedemikian rupa, sehingga sedikit mungkin melibatkan bantuan dari para guru, karena yang lebih dipentingkan pada SLTP terbuka adalah sikap kemandirian siswa.

Kurikulum/GBPP SLTP Reguler dikaji dan dijabarkan melalui pengembangan Pola Dasar Kegiatan Belajar Mengajar (PDKBM) bagi siswa SLTP terbuka. Berdasarkan PDKBM ini kemudian diidentifikasi secara teliti materi-materi yang perlu disiapkan modulnya, karena modul merupakan sumber belajar utama bagi siswa-siswi SLTP terbuka. Sesudah itu diidentifikasi pula materi-materi yang perlu ditunjang dengan media, baik media cetak seperti leaflet maupun media elektronik seperti kaset audio, kaset audio visual, program radio, program slide atau transparansi dan yang perlu diperkaya dengan lingkungan nyata (Diknas, 2002:1).

Untuk menyelenggarakan SLTP Terbuka tidak diperlukan pengadaan atau pembangunan gedung baru. SLTP Terbuka diselenggarakan dengan memanfaatkan gedung SLTP terdekat untuk kegiatan belajar melalui tatap muka dengan Guru Bina. Sedangkan untuk kegiatan belajar secara mandiri atau kelompok di TKB (Tempat Kegiatan Belajar) bersama Guru Pamong dilaksanakan dengan memanfaatkan gedung Sekolah Dasar, Balai Pertemuan Desa, Masjid, rumah penduduk, dan sebagainya yang lokasinya sangat dekat dengan tempat tinggal siswa (Diknas, 2002:3).

Dalam mencapai tujuan pendidikan nasional, SLTP Terbuka mempunyai tujuan yang sama dengan SLTP Reguler, yaitu:
Memberikan bekal kemampuan dasar yang merupakan perluasan serta peningkatan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh di Sekolah Dasar yang bermanfaat bagi siswa untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat, dan warganegara sesuai dengan tingkat perkembangannya serta mempersiapkan siswa untuk hidup dalam masyarakat dan/atau mengikuti pendidikan menengah (Diknas, 2002:8).

Selain belajar sendiri secara mandiri di rumah atau di tempat lain yang lebih nyaman, dalam setiap minggu para sisiwa SLTP terbuka belajar secara teratur selama 6 hari, yaitu melaksanakan belajar mandiri dan kelompok di Tempat Kegiatan Belajar (TKB) selama 4 atau 5 hari dan belajar secara klasikal melalui tatap muka di sekolah induk 2 atau 1 hari (Diknas, 2002:1). SLTP terbuka di dalam pelaksanaannya menjadikan modul sebagai sumber belajar utama. Namun seiring dengan perjalanan waktu, dewasa ini pelaksanaan pembelajaran di SLTP Terbuka banyak yang tidak dapat dilakukan lagi secara murni sesuai ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan. Untuk itu diperlukan suatu strategi baru dalam mengelola SLTP Terbuka yang kondisinya sangat beragam.

Namun, di sisi lain masyarakat sering memandang sebelah mata pada keberadaan SLTP Terbuka, baik dari segi keteraturan dan pembelajaran yang dirasa jauh berbeda dengan SLTP reguler. 

SMP Terbuka SMP Terbuka Jereneng Batu Tulis yang berada di bawah naungan SMP 4 Jonggat Lombok Tengah menjadikan modul sebagai metode pembelajaran Bidang Studi Agama Islam. Sebagaimana penggunaan metode pembelajaran yang lain, metode pembelajaran modul, khususnya Bidang Studi Agama Islam terdapat hambatan di dalam pelaksanaanya. Diantara hambatan tersebut adalah tidak meratanya siswa yang mendapatkan modul pembelajaran. Di samping itu, pembahasan materi dalam modul kurang luas cakupan materi yang di bahas.
Berdasar dari hal tersebut di atas, maka peneliti tertarik untuk mengangkat masalah tentang “Efektifitas Penggunaan Modul Pembelajaran Bidang Studi Agama Islam Kelas II di SMP Terbuka Jereneng Batu Tulis”.

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Pelaksanaan Pendidikan Aqidah Akhlak Di Mts. Al-Musyawirin Berembeng Desa Pengenjek Kecamatan Jonggat Kabupaten Lombok Tengah (PAI-7)

BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang

Disadari ataupun tidak, hakikat segala sesuatu yang ada didunia ini perlu diatur, pengaturan itu dimaksudkan untuk mengarah kepada usaha kelancaran, keteraturan kedinamisan, dan ketertiban suatu usaha untuk mencapaui tujuan yang dikehendaki. Terlebih lagi dunia pendidikan yang semakin kompleks mutlak diperlukan manajerial yang memuat seperangkat konsep dan teori yang dapat diaplikasikan secara komprehensip untuk mencapai tujuan pendidikan yang sudah ditentukan.

Masalah Aqidah Akhlak adalah merupakan suatu masalah yang sangat mendasar bagi setiap pribadi muslim dalam kehidupan sehari-hari yang mampu mewarnai segala sikap dan prilakunya baik ketika berhubungan dengan manusia maupun ketika berhubungan dengan alam sekitar, terlebih lagi dalam berhubungan dengan Allah SWT. menuju keselamatan dunia dan akhirat.

Dalam kaitannya dengan hal ini, para filosof Islam mengatakan bahwa betapa pentingnya periode anak dalam menentukan pribadi/budi pekerti dan pembiasaan anak kepada tingkah laku yang baik pada masa kecilnya. Para filosof Islam juga berpendapat bahwa pendidikan anak sejak kecilnya harus mendapatkan perhatian yang penuh. 
 
Pembentukan kerohanian atau kepribadian yang utama di waktu kecilnya harus mendapat perhatian yang penuh, sangatlah penting artinya bagi perkembangan anak. Karena apabila anak dibiarkan melakukan sesuatu yang kurang baik dan kemudian telah menjadi kebiasaannya akan sukar untuk meluruskannya. Hal tersebut akan menjadi konotasi bahwa pendidikan yang baik wajib dimulai dari rumah dalam keluarga, sejak anak masih kecil, agar jangan sampai anak-anak tanpa pendidikan, bimbingan dan petunjuk-petunjuk, dan bahkan sejak waktu kecilnya ia harus dididik, sehingga anak tidak terbiasa dengan adat yang kurang baik. Anak-anak bila dibiarkan saja, tidak diperhatikan, tidak dibimbing, maka ia akan melakukan kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik.

Keberhasilan guru dalam proses belajar mengajar, dapat dilihat dari sejauh mana tujuan-tujuan pendidikan yang telah ditetapkan dapat tercapai setelah berlangsungnya proses pengajaran. Oleh karena itu guru harus merumuskan tujuan-tujuan mengajarnya dengan jelas, kongkrit dan sebaik-baiknya demi perubahan anak didik, baik pengetahuan, percakapan, nilai sikap dan tingkah laku, atau kepribadian maupun ketrampilan-ketrampilan.

Dalam hal ini tujuan pendidikan Aqidah Akhlak di Madrasah Tsanawiyah adalah merupakan petunjuk, arah, dan sasaran yang hendak dicapai. Tujuan ini menempati kedudukan sentral atau penting sekali, karena merupakan tujuan akhir yang harus dicapai dalam setiap kegiatan dalam proses belajar mengajar, sebab kedudukannya merupakan kegiatan yang bertujuan, terarah dan dilaksanakan demi tercapainya tujuan pendidikan secara menyeluruh, baik tujuan intruksional maupun tujuan Pendidikan Nasional.

Menilik semua hal di atas, maka penulis bermaksud untuk mengangkat bahan penelitian tentang “Pelaksanaan Pendidikan Aqidah Akhlak di MTs. Al-Musyawirin Dusun Berembeng Desa Pengenjek Kecamatan Jonggat Kabupaten Lombok Tengah”.

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Peranan Pendidikan Akhlak Dalam Pembinaan Kepribadian Siswa Di Mts. Nurul Huda Desa Nyerot Kecamatan Jonggat Lombok Tengah (PAI-6)

BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Masalah Akhlaq adalah merupakan suatu masalah yang sangat mendasar bagi setiap pribadi muslim dalam kehidupan sehari-hari yang mampu mewarnai segala sikap dan perilakunya baik ketika berhubungan dengan manusia maupun ketika berhubungan dengan alam sekitar, terlebih lagi dalam berhubungan dengan Allah SWT. menuju keselamatan dunia dan akhirat.

Manusia sebagai makhluk sosial yang memiliki sifat dan tingkah laku yang kadang kala dapat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi. Maka sangat dibutuhkan adanya kepribadian, sehingga ia akan selalu berada dalam rel kebenaran walaupun dalam situasi dan kondisi yang bagaimana pun juga, baik yang datang dari dirinya maupun dari luar. Kedudukan akhlak dalam kehidupan manusia menempati tempat yang penting sekali, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat dan bangsa, sebab jatuh bangunnya, jaya hancurnya, sejahtera rusaknya satu bangsa dan masyarakat adalah bergantung kepada bagaimana akhlaknya, akan tetapi apabila akhlaknya buruk (tidak berakhlak) rusaklah lahir dan batinnya.

Dalam kaitannya dengan hal tersebut, para pendidik harus selektif dalam memilih dan memikirkan moral yang harus dikembangkan dan dibina pada anak didik. Karena hal itu tidak cukup hanya dengan mengisi ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya pada anak didik atau hanya menekankan segi intelektual saja.

Oleh karena itu pembentukan kepribadian muslim hendaknya harus dalam setiap lembaga pendidikan, sehingga nantinya mereka mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan dan pengembangan diri di tengah-tengah masyarakat, dengan harapan semoga anak didik menentukan bagaimana selayaknya dalam mengadakan hubungan dengan Allah SWT. Sehingga kebahagiaan lahir dan batin, dunia dan akhirat dapat tercapai. 

Dalam kaitannya dengan hal ini, para filosof Islam mengatakan bahwa betapa pentingnya periode anak dalam menentukan pribadi/budi pekerti dan pembiasaan anak kepada tingkah laku yang baik pada masa kecilnya. Para filosof Islam juga berpendapat bahwa pendidikan anak sejak kecilnya harus mendapatkan perhatian yang penuh. 

Pembentukan kerohanian atau kepribadian yang utama di waktu kecilnya harus mendapat perhatian yang penuh, sangatlah penting artinya bagi perkembangan anak. Karena apabila anak dibiarkan melakukan sesuatu yang kurang baik dan kemudian telah menjadi kebiasaannya akan sukar untuk meluruskannya. Hal tersebut akan menjadi konotasi bahwa pendidikan yang baik wajib dimulai dari rumah dalam keluarga, sejak anak masih kecil, agar jangan sampai anak-anak tanpa pendidikan, bimbingan dan petunjuk-petunjuk, dan bahkan sejak waktu kecilnya ia harus dididik, sehingga anak tidak terbiasa dengan adat yang kurang baik. Anak-anak bila dibiarkan saja, tidak diperhatikan, tidak dibimbing, maka ia akan melakukan kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik.

Untuk membentuk moral dan akhlak, maka terdapat beberapa metode antara lain:
1.                  Pendidikan secara langsung, yaitu dengan cara menggunakan petunjuk, tuntunan, nasehat, menyebutkan bahaya sesuatu. Di samping itu anak hendaknya dijelaskan hal-hal yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat, menuntun anak kepada amalan-amalan yang baik, mendorong mereka untuk berbudi pekerti yang luhur dan menghindari hal-hal yang tercela.
2.                  Pendidikan secara tidak langsung yaitu dengan jalan sugesti seperti pemberian nasehat-nasehat yang berharga seperti cerita yang baik, sehingga anak akan tertarik dan berusaha untuk meneladaninya.
3.                  Mengambil manfaat dari kecenderungan pembawaan anak-anak dalam rangka pembentukan kerohanian yang luhur atau kepribadian yang utama. Sebagai contoh mereka memiliki kesenangan meniru kesenangan-kesenangan perbuatan atau gerak gerik orang-orang yang berhubungan dengannya (Al-Abrasy, 1987: 106).

Keberhasilan guru dalam proses belajar mengajar, dapat dilihat dari sejauh mana tujuan-tujuan pendidikan yang telah ditetapkan dapat tercapai setelah berlangsungnya proses pengajaran. Oleh karena itu guru harus merumuskan tujuan-tujuan mengajarnya dengan jelas, kongkrit dan sebaik-baiknya demi perubahan anak didik, baik pengetahuan, percakapan, nilai sikap dan tingkah laku, atau kepribadian maupun ketrampilan-ketrampilan.

Dalam hal ini tujuan pendidikan Akhlaq di Madrasah Tsanawiyah adalah merupakan petunjuk, arah, dan sasaran yang hendak dicapai. Tujuan ini menempati kedudukan sentral atau penting sekali, karena merupakan tujuan akhir yang harus dicapai dalam setiap kegiatan dalam proses belajar mengajar, sebab kedudukannya merupakan kegiatan yang bertujuan, terarah dan dilaksanakan demi tercapainya tujuan pendidikan secara menyeluruh, baik tujuan intruksional maupun tujuan Pendidikan Nasional.

Menilik semua hal di atas, MTs. Nurul Huda Desa Nyerot Kecamatan Jonggat Lombok Tengah dalam membina kepribadian siswa dititik beratkan pada pendidikan Akhlaq. Oleh karena itu, peneliti bermaksud untuk mengangkat bahan penelitian tentang “Peranan Pendidikan Akhlaq dalam Pembinaan Kepribadian Siswa di MTs. Nurul Huda Desa Nyerot Kecamatan Jonggat Lombok Tengah”.

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini